Showing all 1 result

Adding to cart
  • Dewi Sri

    “Segane dientekke, ndak diseneni mbok Sri”

    Kalimat tersebut sering diucapkan ibu ke anak saat makan pada waktu lalu. Dalam bahasa Indonesia, “Nasinya dihabiskan, kalau tidak, nanti dimarahi Bu Sri”. Bu Sri atau Mbok Sri dalam kalimat ini mengacu pada sosok Dewi Sri atau Nyai Pohaci Sanghyang Asri (dalam bahasa Sunda). Dewi kemakmuran dalam legenda Jawa, Sunda dan Bali.

    Dewi Sri juga merupakan Dewi Padi, Dewi Sawah dan Dewi Pertanian. Padi dalam budaya Asia diasosiasikan juga dengan kemakmuran. Dewi Sri diyakini juga menjadi dewi pelindungkelahiran dan kehidupan. Dia mengatur kehidupan, kekayaan dan kemakmuran manusia.

    Dikisahkan Dewi Sri lahir dari salah satu tetes air mata Ananta Boga, Dewa Ular. Dari tiga tetes air matanya, lahirnya Dewi Sri. Dewi Sri dirupakan dengan sosok yang ayu, ramping, berkulit kuning langsat. Selain sosoknya yang cantik, watak dan budinya juga sangat baik, sehingga semua dewa jatuh hati pada Dewi Sri. Termasuk ayah angkatnya, Batara Guru (Dewa Siwa dalam legenda Jawa).

    Untuk menghindarkan niat Batara Guru, dewa-dewa lain berencana untuk memisahkan Dewi Sri dengan Batara Guru. Dewi Sri akhirnya mati karena racun yang dibubuhkan ke dalam minumannya. Dan jasadnya dikuburkan di bumi. Keajaiban terjadi karena kesucian dan kebaikan budi sang Dewi. Dari tempatnya dikuburkan, tumbuh beraneka macam tanaman dan pohon-pohon yang berguna bagi umat manusia, termasuk padi.

    Kepercayaan ini masih ada di kebudayaan Jawa, Sunda dan Bali. di Jawa, terdapat tradisi yang menempatkan Dewi Sri dalam rumah mereka. Dinamakan Pasrean. Dilengkapi dengan ukiran ular dan patung loro blonyo, juga terkadang peralatan pertanian, seperti ani-ani. Ani-ani adalah arit kecil yang bisa disimpan di telapak tangan untuk memanen padi. Dalam tradisi masyarakat Sunda, menggunakan ani-ani tidak akan menakuti Dewi Sri yang berjiwa halus dan lemah lembut. Hal ini juga merupakan wujud penghormatan kepada Dewi Sri. Terdapat penelitian yang menyatakan memanen menggunakan ani-ani memberikan hasil yang lebih maksimal ketimbang menggunakan mesin. Memanen menggunakan mesin dapat mengurangi 5 % dari total hasil panen.

    Ani-ani atau ketam mempunyai dua bagian, pisau dan kayu genggaman yang digunakan untuk meletakkan pisau. Cara menggunakannya dengan memotong batang padi satu persatu. Istilah ani-ani tidak hanya mengacu pada alat, namun juga kegiatan memanen padi. Memanen dengan ani-ani atau ketam lebih sering dilakukan oleh perempuan. Sehingga ani-ani menjadi menjadi identik dengan perempuan. Ani-ani pun menjadi aksesoris atau penusuk konde bagi perempuan di daerah agraris.

    Warna-warna yang digunakan pada ilustrasi Dewi Sri antara lain, kuning oranye, hijau dan biru. Warna-warna tersebut melambangkan berbagai hal. Kuning oranye adalah warna kehidupan ketika padi sudah menguning dan dipanen. Sehingga akan menjadi nasi untuk kehidupan banyak manusia. Kuning oranye atau kuning keemasan juga simbol warna ma­tahari, yang memberikan kehidupan pohon padi dan makluk hidup lainnya. Dapat dibayangkan juga kebahagiaan petani ketika melihat sawahnya yang luas menguning keemasan. Tiba saatnya panen raya.

    Sawah juga identik dengan warna hijau, warna daun dan kesuburan. Zat hijau daun atau klorofil merupakan zat yang penting bagi kehidupan tanaman, termasuk padi. Semoga tanah kita yang luas tetap subur, sawah menumbuhkan padi-padi yang menghijau, dan bukan tembok-tembok hijau yang bertumbuh subur.

    Biru menjadi simbol air dan udara yang sangat penting untuk kehidupan, tidak hanya tanaman, namun juga semua makhluk di bumi. Dan warna kaos yang hitam, itu menandakan Njawani yang tetap Metal.

    View Product